{"id":18378,"date":"2026-10-07T02:47:12","date_gmt":"2026-10-07T02:47:12","guid":{"rendered":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/?p=18378"},"modified":"2026-10-07T02:52:36","modified_gmt":"2026-10-07T02:52:36","slug":"seminar-nasional-ftik-uin-malang-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-dan-ekoteologi-sebagai-fondasi-pendidikan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/seminar-nasional-ftik-uin-malang-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-dan-ekoteologi-sebagai-fondasi-pendidikan-karakter\/","title":{"rendered":"Seminar Nasional FTIK UIN Malang Dorong Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"18378\" class=\"elementor elementor-18378\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7b8569c7 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"7b8569c7\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-38efc89c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"38efc89c\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><strong>FTIK INSIGHT \u2013<\/strong><\/strong> Malang \u2013 Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik. Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, pendidikan juga dituntut mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kesadaran untuk menjaga lingkungan. Semangat tersebut menjadi perhatian dalam <strong>Seminar Nasional \u201cKurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter\u201d<\/strong> yang diselenggarakan <strong>Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang<\/strong>, Selasa (6\/10\/2026). Bertempat di <strong>Aula Gedung Microteaching<\/strong>, kegiatan tersebut menghadirkan <strong>Dr. H. Mastuki, M.Ag., Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta<\/strong>, sebagai narasumber. Seminar diikuti oleh <strong>seluruh dosen PPPK FTIK dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)<\/strong>. Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperluas perspektif mengenai arah pendidikan yang tidak hanya mengejar keberhasilan kognitif, tetapi juga menempatkan pembentukan karakter, relasi kemanusiaan, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian integral dari proses pendidikan.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar dibuka oleh <strong>Dekan FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A.<\/strong> Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menghadirkan perspektif pendidikan yang lebih utuh. Menurutnya, pendidikan perlu bergerak melampaui orientasi pada pencapaian akademik semata. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi ruang yang membentuk manusia dengan karakter kuat, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta memiliki kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Dalam konteks tersebut, <strong>kurikulum berbasis cinta<\/strong> memiliki posisi penting. Cinta dalam pendidikan tidak sekadar dimaknai sebagai konsep, tetapi perlu hadir dalam relasi nyata antara pendidik dan peserta didik. <strong>Prof. Muhammad Walid<\/strong> menekankan bahwa kurikulum berbasis cinta perlu dilandasi <strong>rasa cinta yang mendalam kepada anak didik<\/strong>. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak semestinya dijalankan hanya berdasarkan kehendak pendidik, melainkan mempertimbangkan kebutuhan, karakter, dan perkembangan peserta didik. Semangat tersebut sejalan dengan konsep <strong>integrasi Ulul Albab<\/strong> yang menjadi bagian penting dalam visi pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perspektif kurikulum berbasis cinta membawa konsekuensi penting terhadap peran pendidik. Guru tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi, memberikan tugas, dan melakukan evaluasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memahami peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi, kebutuhan, perasaan, dan latar belakang yang beragam. Ketika proses pendidikan dibangun atas dasar cinta, hubungan antara pendidik dan peserta didik diharapkan menjadi lebih manusiawi. Metode pembelajaran pun tidak seharusnya hanya mengikuti keinginan pendidik. Sebaliknya, pendidik perlu memiliki kepekaan untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Dengan cara pandang tersebut, pendidikan karakter tidak diberikan hanya melalui teori, tetapi ditumbuhkan melalui keteladanan, interaksi, penghargaan, kepedulian, dan pengalaman belajar yang bermakna. Selain kurikulum berbasis cinta, seminar juga mengangkat perspektif <strong>ekoteologi<\/strong> sebagai bagian dari fondasi pendidikan karakter. Ekoteologi memberikan ruang untuk melihat hubungan manusia dengan alam melalui perspektif nilai dan spiritualitas. Lingkungan bukan hanya dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dijaga dan diperlakukan secara bertanggung jawab. Perspektif tersebut menjadi semakin relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Karena itu, pendidikan karakter tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun hubungan yang bertanggung jawab dengan lingkungan dan seluruh kehidupan di sekitarnya.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" class=\"wp-image-18380 aligncenter\" src=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-1024x683.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-300x200.jpg 300w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-768x512.jpg 768w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0302-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dekan FTIK <\/strong>dalam sambutannya,<strong> Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA., <\/strong>juga menyinggung dinamika perubahan kurikulum yang terus berlangsung dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia berharap perubahan kurikulum yang ada saat ini tidak kembali mengalami nasib seperti berbagai kurikulum sebelumnya yang mengalami pergantian dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, kehadiran kurikulum berbasis cinta diharapkan dapat menjadi momentum untuk menghadirkan arah pendidikan yang lebih kokoh dan berkelanjutan. Ia bahkan berharap kurikulum berbasis cinta dapat menjadi kurikulum yang mampu bertahan dan menjadi pijakan bersama dalam sistem pendidikan Indonesia, sehingga tidak sekadar menjadi perubahan administratif, tetapi benar-benar membawa perubahan substansial terhadap cara pendidikan dijalankan. Harapan tersebut menegaskan bahwa perubahan kurikulum seharusnya tidak berhenti pada perubahan dokumen, istilah, maupun perangkat pembelajaran. Lebih penting dari itu adalah bagaimana perubahan tersebut benar-benar dirasakan dalam proses pendidikan dan mampu membentuk generasi yang lebih berkarakter.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-18385 aligncenter\" src=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"773\" height=\"515\" srcset=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-300x200.jpg 300w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-768x512.jpg 768w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC_0317-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 773px) 100vw, 773px\" \/><\/figure>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehadiran dosen PPPK FTIK dan mahasiswa PAI dalam seminar ini memberikan ruang dialog akademik yang mempertemukan pengalaman pendidik dengan perspektif generasi calon pendidik. Bagi mahasiswa, tema kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi menjadi bekal penting untuk memahami bahwa menjadi pendidik tidak hanya membutuhkan kompetensi keilmuan, tetapi juga membutuhkan kepekaan, empati, tanggung jawab, dan kesadaran ekologis. Sementara bagi para dosen, forum tersebut menjadi ruang untuk terus merefleksikan praktik pendidikan dan memperkuat perspektif akademik dalam merespons perkembangan kebijakan serta kebutuhan pendidikan masyarakat. Dengan demikian, seminar tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pendidikan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.<\/p>\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"563\" class=\"wp-image-18379 aligncenter\" src=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-1024x563.jpeg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-1024x563.jpeg 1024w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-300x165.jpeg 300w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-768x423.jpeg 768w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-1536x845.jpeg 1536w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-2048x1127.jpeg 2048w, https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/20261006_094657.jpg-18x10.jpeg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar Nasional \u201cKurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter\u201d memberikan pesan bahwa masa depan pendidikan tidak cukup dibangun dengan kecerdasan semata. Pendidikan membutuhkan hati yang mampu mencintai, pikiran yang mampu memahami, serta tindakan yang mampu menjaga. Cinta kepada peserta didik mendorong pendidik untuk menghadirkan pembelajaran yang manusiawi. Ekoteologi mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap alam. Sementara integrasi <strong>Ulul Albab<\/strong> memberikan arah agar kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral dapat tumbuh secara seimbang. Pada akhirnya, seminar ini menjadi bagian dari ikhtiar FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk terus menghadirkan ruang akademik yang mampu membaca perubahan sekaligus menjaga nilai-nilai fundamental pendidikan.[iz]<\/p>\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Email :\u00a0<a href=\"mailto:fitk@uin-malang.ac.id\">fitk@uin-malang.ac.id<\/a><\/strong><br \/><strong>Website:\u00a0<a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/2ce3da26\/https\/fitk.uin-malang.ac.id\/\">ftik.uin-malang.ac.id<\/a><\/strong><br \/><strong>Instagram :\u00a0<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/ftikuinmlg?igsi=NW9jbmtybjA1cmg1\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ftikuinmlg<\/a><\/strong><br \/><strong>Tiktok :\u00a0<a href=\"https:\/\/www.tiktok.com\/@ftik.uinmalang?_r=1&amp;_t=ZS-99KSfcugEXk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ftik.uinmalang<\/a><\/strong><br \/><strong>Youtube :\u00a0<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/@fitk2016\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">fitkuinmlg<\/a><\/strong><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/56522f16\/https\/www.tiktok.com\/@fitk.uinmalang?_r=1&amp;_t=ZS-91tvcktAjjO\"><br \/><\/a><strong>Layanan :<\/strong><br \/><strong>\u2013 WA :\u00a0<a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/2ce3da26\/https\/wa.me\/0816561337\">0816561337 (15. Layanan FITK)<\/a><\/strong><br \/><strong>\u2013 Link mobile :\u00a0<a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/2ce3da26\/http\/dumas.uin-malang.ac.id\/\">dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)<\/a><\/strong><\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>FTIK INSIGHT \u2013 Malang \u2013 Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik. Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, pendidikan juga dituntut mampu membentuk manusia yang memiliki karakter, kepedulian sosial, serta kesadaran untuk menjaga lingkungan. Semangat tersebut menjadi perhatian dalam Seminar Nasional \u201cKurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Karakter\u201d yang diselenggarakan Fakultas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18383,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,52],"tags":[],"class_list":["post-18378","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-informasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18378","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18378"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18378\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18390,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18378\/revisions\/18390"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18378"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18378"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18378"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}