FTIK INSIGHT – Menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, Muh. Farhan Athallah bukan hanya tentang mampu mengingat ayat demi ayat, tetapi juga tentang kesetiaan untuk terus menjaganya. Ada hafalan yang harus diulang ketika tidak ada perlombaan, ada persiapan yang dilakukan ketika panggung kompetisi sudah di depan mata, dan ada doa yang selalu menyertai setiap ikhtiar. Perjalanan itulah yang mengantarkan seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 7 FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang meraih Juara 1 dalam ajang PORSI JAWARA pada Porsi Jawara II Cabang Musabaqah Hifdzil Qur’an 30 Juz Putra. Bertempat di Gedung Laboratorium Terpadu Lantai 6 UIN KH.Abdurrahmam Wahid, 11, September, 2026. Di balik capaian tersebut, tersimpan proses panjang yang tidak dibangun dalam satu malam, melainkan melalui kedisiplinan menjaga hafalan, latihan, bimbingan, seleksi, serta dukungan orang-orang yang selalu berada di belakang perjuangannya.
Bagi seorang penghafal Al-Qur’an, Muh. Farhan Athallah murajaah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian. Hafalan bukan sesuatu yang selesai ketika berhasil diingat, tetapi harus terus dijaga agar tetap kuat. “Mengulang-ulang hafalan adalah satu hal yang harus dilaksanakan, baik ketika mengikuti ataupun tidak mengikuti musabaqah,” menjadi prinsip yang mengiringi perjalanan persiapannya. Ketika memutuskan mengikuti PORSI JAWARA, persiapan khusus kemudian dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Perjalanan tersebut diawali dengan mengikuti seleksi antar mahasiswa di kampus sebanyak dua kali sesi seleksi. Dua tahapan seleksi itu menjadi pintu awal menuju kesempatan yang lebih besar. Setelah dinyatakan terpilih sebagai perwakilan UIN Maliki Malang, semangat persiapan justru semakin ditingkatkan. Menjadi perwakilan universitas membawa tanggung jawab tersendiri bagi Muh. Farhan. Hafalan yang selama ini dijaga harus kembali dipersiapkan untuk menghadapi suasana kompetisi. Murajaah dilakukan dengan lebih giat, sekaligus berlatih menjawab soal-soal ayat. Dalam proses tersebut, ia mendapatkan bimbingan dari Ust. Awwaludin Fithroh, M.Pd. dan Ust. Manzilur Rahman Romadhon, M.Kom. di Hai’ah Tahfizh Al-Qur’an UIN Maliki Malang. Bimbingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses persiapan. Latihan bukan hanya tentang mengingat kembali hafalan, tetapi juga membangun kesiapan untuk menghadapi tantangan yang muncul ketika berada di arena perlombaan. Hari demi hari dilalui dengan satu tujuan, datang ke panggung bukan hanya dengan hafalan, tetapi dengan kesiapan.
Menariknya, ketika hari perlombaan semakin dekat, strategi persiapan justru diarahkan pada penguatan mental. Sekitar dua hari sebelum tampil, ia mencukupkan diri untuk kembali mengulang hafalan secara urut. Tahap tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan mental menghadapi hari pelaksanaan. Di titik ini, perjuangan tidak lagi hanya berbicara tentang seberapa banyak hafalan yang telah dimiliki. Ada ketenangan yang harus dijaga. Ada rasa percaya diri yang harus dibangun. Dan ada keyakinan bahwa seluruh ikhtiar yang telah dilakukan harus diserahkan kepada Allah SWT. Doa pun menjadi bagian dari persiapan. Muh. Farhan memperbanyak doa kepada Allah SWT serta memohon doa dari orang tua dan guru. Di balik seorang mahasiswa yang berdiri di panggung kompetisi, ternyata ada doa keluarga, bimbingan guru, dan proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Hingga akhirnya, tibalah waktu untuk membuktikan seluruh persiapan. Dengan hafalan yang telah dijaga, latihan yang telah dilakukan, bimbingan yang telah diterima, serta doa yang terus dipanjatkan, ia mampu memberikan penampilan terbaik dalam ajang PORSI JAWARA. Alhamdulillah, atas ridho Allah SWT, perjuangan tersebut berbuah manis. Muh. Farhan berhasil meraih Juara 1. Capaian ini menjadi puncak dari perjalanan yang selama kurang lebih dua bulan ditempuh dengan penuh kesungguhan. Namun bagi seorang penghafal Al-Qur’an, kemenangan tersebut tentu bukan alasan untuk berhenti. Justru menjadi pengingat bahwa hafalan harus terus dijaga dan ilmu harus terus diamalkan.

Murajaah mungkin terlihat sederhana, mengulang hafalan mungkin terasa sebagai rutinitas. Berlatih menjawab soal mungkin merupakan bagian dari persiapan biasa. Namun ketika semuanya dilakukan secara konsisten, dengan bimbingan dan doa, proses sederhana tersebut dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang luar biasa. Prestasi mahasiswa PAI FTIK UIN Malang, Muh. Farhan Athallah sekaligus menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kemampuan, tetapi juga dari kedisiplinan menjaga proses, kerendahan hati menerima bimbingan, serta keyakinan untuk menyerahkan hasil kepada Allah SWT. Lebih dari sebuah piala atau gelar juara, perjalanan tersebut menyimpan nilai yang jauh lebih dalam: bahwa Al-Qur’an tidak hanya dihafalkan untuk sebuah perlombaan, tetapi dijaga sebagai bagian dari kehidupan.
Di balik medali Juara 1, ada dua bulan perjuangan. Di balik penampilan terbaik, ada hafalan yang terus diulang. Di balik keberanian berdiri di panggung, ada doa orang tua, guru, dan keyakinan kepada Allah SWT. Kisah mahasiswa PAI semester 7 FTIK UIN Malang ini menjadi pengingat bahwa prestasi bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium, tetapi tentang siapa yang paling setia menjaga proses sebelum sampai ke sana. Dari murajaah lahir keteguhan, dari bimbingan tumbuh kesiapan, dari doa hadir kekuatan, dan atas ridho Allah SWT, ikhtiar itu akhirnya berbuah kemenangan.[iz]
Email : fitk@uin-malang.ac.id
Website: ftik.uin-malang.ac.id
Instagram : ftikuinmlg
Tiktok : ftik.uinmalang
Youtube : fitkuinmlg
Layanan :
– WA : 0816561337 (15. Layanan FITK)
– Link mobile : dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)





