MIU Login

Ketika Kota Menjadi Kelas Melalui Inovasi MathCityMap Mahasiswa Tadris Matematika FTIK UIN Malang Hidupkan Literasi Matematika

FTIK INSIGHT – Bagaimana jika belajar matematika tidak lagi selalu berlangsung di dalam kelas? Bagaimana jika siswa justru diajak berjalan, mengamati bangunan, membaca lingkungan, mengukur objek, berdiskusi, lalu memecahkan persoalan matematika berdasarkan apa yang mereka temukan? Pertanyaan itulah yang diterjemahkan menjadi sebuah inovasi pembelajaran oleh Achmad Allafa Al Azka (NIM 220108110060), lulusan Program Studi Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui karya skripsinya, Achmad menghadirkan konsep pembelajaran matematika yang menggabungkan teknologi digital, eksplorasi lingkungan, konteks sejarah, dan literasi matematis melalui platform MathCityMap.

Gagasan tersebut dikembangkan dalam penelitian berjudul “Pengembangan Media Latihan Soal Berbantuan MathCityMap Terintegrasi Konteks Kota Lama Surabaya dalam rangka untuk Meningkatkan Literasi Matematis Siswa Kelas IX”, di bawah bimbingan Dr. Marhayati, M.PMat. Karya ini menawarkan cara pandang berbeda terhadap pembelajaran matematika. Lingkungan sekitar tidak lagi sekadar menjadi latar tempat belajar, tetapi diubah menjadi sumber belajar yang hidup.

Kawasan Kota Lama Surabaya menjadi bagian penting dalam inovasi tersebut. Ruang yang memiliki nilai sejarah dan berbagai objek di dalamnya dimanfaatkan sebagai konteks untuk menghadirkan persoalan matematika yang dekat dengan kehidupan siswa. Siswa tidak sekadar datang dan melihat. Mereka diajak menjalani sebuah perjalanan pembelajaran. Melalui rute yang telah dirancang, siswa bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Pada setiap lokasi, mereka menemukan tantangan yang harus diselesaikan. Untuk mendapatkan jawaban, siswa perlu mengamati objek, menemukan informasi, melakukan pengukuran atau perkiraan, memahami persoalan, kemudian memilih strategi matematika yang tepat. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih aktif. Matematika yang sebelumnya mungkin terasa abstrak berubah menjadi sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, diukur, dipikirkan, dan digunakan untuk memahami lingkungan. Inilah kekuatan utama konsep yang dikembangkan Achmad: membawa matematika keluar dari halaman buku dan mempertemukannya dengan realitas kehidupan.

Dalam inovasi ini, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan utama. MathCityMap justru menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan lingkungan nyata. Platform tersebut memungkinkan penyusunan aktivitas mathematical trail melalui rute dan titik-titik tertentu. Setiap titik dapat diisi dengan tantangan matematika yang berkaitan dengan objek di lokasi tersebut. Siswa menggunakan perangkat digital untuk mengikuti perjalanan dan mengakses tantangan, tetapi penyelesaian persoalan tetap menuntut aktivitas berpikir di dunia nyata. Mereka harus mengamati, berpikir, memecahkan masalah, dan bergerak menuju tantangan berikutnya. Pola tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang menyerupai petualangan. Ada misi yang harus dituntaskan, lokasi yang harus ditemukan, persoalan yang harus dipecahkan, hingga rasa puas ketika sebuah tantangan berhasil diselesaikan. Teknologi akhirnya bukan menggantikan aktivitas belajar, melainkan menghidupkan aktivitas belajar.

Lebih jauh, inovasi ini membawa perhatian pada pentingnya literasi matematis. Kemampuan matematika tidak semata-mata diukur dari kemampuan siswa memperoleh jawaban yang benar, tetapi juga dari kemampuan memahami situasi, merumuskan persoalan, menggunakan konsep matematika, melakukan penalaran, serta menafsirkan hasil dalam konteks kehidupan nyata. Melalui konteks Kota Lama Surabaya, siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bahwa matematika sebenarnya hadir di sekitar mereka. Jarak, bentuk, ukuran, ruang, pola, dan berbagai informasi yang terdapat pada lingkungan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami konsep matematika. Di sinilah pembelajaran memperoleh makna yang lebih luas. Siswa tidak hanya belajar tentang matematika, tetapi belajar menggunakan matematika untuk membaca dunia.

Pengembangan media tersebut dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari analisis kebutuhan dan observasi lokasi, perancangan rute, penentuan titik koordinat, penyusunan soal kontekstual, hingga integrasi ke dalam MathCityMap. Setiap tantangan dirancang agar memiliki keterkaitan dengan objek dan kondisi nyata yang ditemukan siswa di lapangan. Media yang dikembangkan kemudian melalui proses validasi dan uji coba untuk melihat kelayakan serta penerapannya dalam pembelajaran. Pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara, angket, dan tes literasi matematis. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru. Di balik teknologi terdapat proses akademik yang sistematis: mengidentifikasi kebutuhan, merancang solusi, menguji gagasan, dan mengevaluasi dampaknya. Hal inilah yang membuat karya Achmad memiliki nilai lebih sebagai sebuah inovasi pendidikan.

Karya Achmad juga merepresentasikan semangat pendidikan di FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ilmu secara integratif dan kontekstual. Teknologi dimanfaatkan bukan sekadar karena mengikuti perkembangan zaman, tetapi karena dapat digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran. Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai tempat, tetapi sebagai sumber pengetahuan. Sementara matematika tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjadi instrumen untuk memahami persoalan kehidupan. Kota Lama Surabaya menjadi konteks lokal, MathCityMap menjadi teknologi penggerak, dan literasi matematis menjadi kompetensi yang dikembangkan. Dari perpaduan tersebut lahir sebuah model pengalaman belajar yang memungkinkan siswa menjadikan lingkungan sebagai ruang eksplorasi dan matematika sebagai alat berpikir.

Bayangkan seorang siswa tidak lagi bertanya, “Kapan pelajaran matematika selesai?”

Sebaliknya, ia justru bertanya, “Di mana tantangan berikutnya?”

Pertanyaan sederhana tersebut menggambarkan perubahan pengalaman belajar yang ingin dihadirkan melalui MathCityMap. Rasa ingin tahu menjadi penggerak, lingkungan menjadi arena eksplorasi, teknologi menjadi pendamping, dan matematika menjadi alat untuk menyelesaikan misi. Inilah pembelajaran yang bergerak. Bukan hanya memindahkan siswa dari satu halaman buku ke halaman berikutnya, tetapi membawa mereka dari satu pengalaman menuju pengalaman lainnya. Dan pada setiap langkah, ada pengetahuan yang ditemukan.

Karya Achmad Allafa Al Azka menunjukkan bahwa matematika dapat ditemukan di mana saja ketika kita memiliki cara pandang untuk melihatnya. Kota Lama Surabaya yang kaya akan objek dan nilai sejarah dapat berubah menjadi laboratorium pembelajaran. Teknologi MathCityMap dapat menjadi jembatan antara dunia digital dan dunia nyata. Sementara tantangan matematika dapat menjadi pintu untuk menumbuhkan kemampuan berpikir dan literasi matematis siswa. Lebih dari sebuah karya skripsi, inovasi ini menjadi gambaran bagaimana mahasiswa dapat mengubah persoalan pembelajaran menjadi gagasan, gagasan menjadi inovasi, dan inovasi menjadi pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dari Kota Lama Surabaya, matematika menemukan ruang baru untuk hidup. Dari tangan mahasiswa Tadris Matematika, teknologi menemukan arah untuk memberi manfaat. Dan dari semangat Generasi Ulul Albab, lahir keyakinan bahwa ilmu akan semakin berarti ketika mampu membaca realitas dan menghadirkan solusi.[iz]

Email : fitk@uin-malang.ac.id
Website: ftik.uin-malang.ac.id
Instagram : ftikuinmlg
Tiktok : ftik.uinmalang
Youtube : fitkuinmlg
Layanan :
– WA : 0816561337 (15. Layanan FITK)
– Link mobile : dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)

Berita Terkait