MIU Login

Tim Baru, Perjuangan Luar Biasa, Mahasiswa FTIK Rizal dan Partner Antar UIN Malang ke Final Debat Bahasa Arab JAWARA II

FTIK INSIGHT – Tidak semua tim juara dibentuk dari orang-orang yang sejak awal terbiasa berjuang bersama. Ada pula tim yang lahir dari pertemuan, dibangun melalui latihan, ditempa oleh perbedaan, lalu tumbuh menjadi kekuatan ketika berada di arena pertandingan. Kisah tersebut hadir dari tim Debat Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam ajang PORSI JAWARA II 2026. Rizal Rafid Ariqoh, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FTIK semester 7, bersama Siti Najahatul Imtihan dan Nasruddin Rafa’i dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), berhasil membawa nama UIN Malang hingga babak final dan meraih Juara 2. Kompetisi berlangsung pada 10–11 September 2026 di Aula Gedung Perpustakaan lantai 3 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Di balik capaian tersebut terdapat perjalanan yang tidak sederhana: tim yang baru terbentuk, perbedaan program studi, lokasi kampus, keterbatasan waktu latihan, hingga pertandingan demi pertandingan yang harus dilalui dengan strategi yang terus berkembang.

Perjalanan tim dimulai dari seleksi internal cabang Debat Bahasa Arab. Seleksi tersebut menilai kemampuan individu, bukan langsung dalam format tim. Rizal harus bersaing dengan sejumlah kandidat lainnya sebelum akhirnya terpilih menjadi salah satu dari tiga peserta yang akan mewakili UIN Malang. Dari proses tersebut terbentuklah satu tim: Rizal, Najaha, dan Rafa’i. Menariknya, hanya Rizal yang berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, sedangkan kedua partnernya berasal dari Bahasa dan Sastra Arab. Ketiganya juga belum pernah bertanding dalam satu tim sebelumnya. Artinya, mereka tidak hanya harus mempersiapkan materi debat, tetapi juga harus belajar menjadi satu kesatuan. Latihan pun mulai diintensifkan. Mereka membangun bonding, menyelaraskan cara berpikir, membagi peran, dan memahami karakter satu sama lain. Tantangan semakin terasa karena perbedaan program studi serta lokasi kampus yang berada di kampus berbeda membuat jadwal latihan harus diatur seefisien mungkin. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti. Pengalaman masing-masing dalam mengikuti kompetisi debat Bahasa Arab menjadi bekal untuk membangun tim baru ini. Sedikit demi sedikit, tiga individu dengan latar belakang berbeda mulai menemukan ritme sebagai satu tim.

Perjuangan semakin intensif ketika memasuki hari pertandingan. Mosi yang diberikan pada malam sebelumnya harus segera dibedah. Dari pukul 18.30 hingga 22.00 WIB, tim menghabiskan waktu untuk mengulik arah perdebatan, memetakan kemungkinan argumentasi, serta menyusun strategi yang akan digunakan pada pertandingan keesokan harinya. Waktu istirahat menjadi semakin terbatas, tetapi persiapan harus tetap dilakukan. Dalam debat, kemampuan berbicara saja tidak cukup. Peserta harus mampu memahami mosi, membangun argumentasi, membaca arah serangan lawan, sekaligus merespons secara cepat dan tepat. Malam itu menjadi salah satu ruang penting bagi tim UIN Malang untuk mempersiapkan bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara berpikir dan strategi menghadapi lawan.

Hari pertama perlombaan diawali dengan pembukaan, pembacaan profil atau CV dewan juri, serta penjelasan petunjuk teknis perlombaan. Sebanyak 16 tim berpartisipasi dalam babak penyisihan yang terbagi menjadi delapan pertandingan. Tim UIN Malang mendapatkan kesempatan bertanding pada babak kedua dan harus menghadapi tim tuan rumah. Pertandingan berlangsung dengan persaingan yang ketat. Setelah seluruh pertandingan penyisihan selesai, hasil diumumkan pada sore harinya. Alhamdulillah, tim UIN Malang berhasil menempati posisi kedua, berada di bawah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil tersebut memastikan langkah mereka berlanjut ke babak perempat final. Satu babak telah dilewati. Namun, perjuangan justru semakin berat. Memasuki hari kedua, tim harus bersiap menghadapi babak perempat final hingga final. Tantangannya semakin besar karena mosi telah diberikan sebelumnya, tetapi posisi pro dan kontra baru ditentukan 30 menit sebelum pertandingan. Kondisi tersebut menuntut kemampuan berpikir cepat dan kesiapan strategi. Setelah melakukan persiapan sejak malam sebelumnya, tim UIN Malang bertanding pada babak keempat, tepat setelah pelaksanaan salat Jumat. Lawan yang dihadapi adalah UIN Bandung. Pertandingan kembali berlangsung sengit. Dengan kemampuan dan strategi yang telah dipersiapkan, tim UIN Malang berhasil melewati babak tersebut dan menempati posisi ketiga, setelah UIN Jakarta dan UIN Bandung. Hasil itu membawa mereka ke babak berikutnya. Namun, tidak ada waktu panjang untuk beristirahat.

Semifinal menjadi salah satu titik paling menentukan dalam perjalanan tim. Hasil pengundian kembali mempertemukan UIN Malang dengan UIN Bandung, lawan yang sebelumnya berhasil mengungguli mereka dalam perolehan poin. Pertemuan kedua tentu menghadirkan tekanan tersendiri. Mereka telah mengetahui karakter permainan lawan dan menyadari bahwa strategi sebelumnya harus dievaluasi. Di sinilah keberanian untuk melakukan perubahan menjadi sangat penting. Tim UIN Malang melakukan penyesuaian strategi. Rizal yang pada pertandingan sebelumnya berperan sebagai pembicara ketiga kembali mengambil posisi sebagai pembicara pertama, bertukar peran dengan Najaha yang menjadi pembicara ketiga. Perubahan tersebut ternyata memberikan hasil yang berarti. Dengan strategi baru dan semangat untuk memperbaiki hasil sebelumnya, tim UIN Malang berhasil melewati UIN Bandung dan memastikan tempat di babak final. Perjalanan yang awalnya dimulai dari seleksi individu kini telah membawa tiga mahasiswa yang sebelumnya belum pernah bertanding bersama ke panggung terakhir kompetisi.

Babak final mempertemukan UIN Malang dengan UIN Jakarta, yang sebelumnya berhasil mengalahkan UIN Yogyakarta. Pertandingan final dilaksanakan setelah Magrib. Kembali berada pada posisi pro, tim UIN Malang harus menghadapi lawan dalam kondisi mental yang tidak lagi sepenuhnya prima setelah melewati rangkaian pertandingan panjang. Kelelahan mulai terasa. Namun, semangat untuk memberikan yang terbaik tetap dipertahankan. Pertandingan berlangsung sengit. Kedua tim sama-sama berusaha mempertahankan argumentasi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga akhir pertandingan. Pada akhirnya, hasil berkata lain. Tim UIN Malang harus puas berada di posisi kedua, dengan selisih hanya dua poin dari sang juara. Meski belum berhasil membawa pulang gelar tertinggi, perjalanan hingga final merupakan pencapaian luar biasa bagi tim yang baru dibentuk dalam kompetisi tersebut.

Bagi Rizal, Najaha, dan Rafa’i, medali perak bukan sekadar tanda bahwa mereka berada di posisi kedua. Medali tersebut menyimpan cerita tentang bagaimana tiga mahasiswa dari latar belakang berbeda belajar menjadi satu tim. Ada waktu yang harus disesuaikan, perjalanan antar lokasi kampus, latihan yang harus diintensifkan, malam-malam membedah mosi, pertandingan melawan tim tuan rumah, kekalahan poin, perubahan strategi, hingga pertemuan kembali dengan lawan yang sebelumnya mengalahkan mereka. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses pembelajaran. Kompetisi debat pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumentasi paling kuat. Di dalamnya terdapat kemampuan mendengarkan, bekerja sama, mengendalikan tekanan, membaca situasi, mengambil keputusan, serta berani mengubah strategi ketika keadaan menuntut demikian. Perjalanan tim UIN Malang menunjukkan bahwa kekuatan sebuah tim tidak selalu lahir karena telah lama bersama. Kadang, kekuatan justru tumbuh karena mereka mau belajar untuk menjadi satu.

Mereka datang sebagai tiga mahasiswa dari dua program studi, dibentuk menjadi satu tim, lalu pulang membawa medali perak dari panggung final. Rizal Rafid Ariqoh, Siti Najahatul Imtihan, dan Nasruddin Rafa’i telah membuktikan bahwa keterbatasan waktu, perbedaan latar belakang, bahkan kekalahan pada pertandingan sebelumnya bukanlah akhir dari perjuangan. Mereka memilih mengevaluasi, mengubah strategi, dan kembali berdiri untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Selisih dua poin memang memisahkan mereka dari gelar Juara 1. Namun, perjalanan menuju final telah menghadirkan kemenangan yang tidak kalah berarti: tentang keberanian, persahabatan, kerja sama, ketangguhan mental, dan keyakinan untuk terus melangkah. Karena dalam sebuah pertandingan, podium mungkin hanya mencatat siapa yang menang. Tetapi perjalananlah yang akan selalu mengingatkan bagaimana sebuah kemenangan diperjuangkan.[iz]

Email : fitk@uin-malang.ac.id
Website: ftik.uin-malang.ac.id
Instagram : ftikuinmlg
Tiktok : ftik.uinmalang
Youtube : fitkuinmlg
Layanan :
– WA : 0816561337 (15. Layanan FITK)
– Link mobile : dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)

Berita Terkait