MIU Login

Menulis untuk Berpikir, Berkarya untuk Berdampak, Agenda Mahasiswa Baru MPI FTIK Bangun Fondasi Budaya Akademik melalui Sekolah Karya Tulis Ilmiah

FTIK INSIGHT – Malang –  Memasuki dunia perguruan tinggi bukan hanya tentang beradaptasi dengan lingkungan akademik, tetapi juga tentang membangun cara berpikir yang kritis, sistematis, dan bertanggung jawab. Semangat tersebut menjadi ruh dalam kegiatan Sekolah Karya Tulis Ilmiah yang diikuti oleh mahasiswa baru Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) pada Sabtu, 5 September 2026, bertempat di Aula Gedung C. Kegiatan ini dihadirkan sebagai ruang pembelajaran awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal dunia karya tulis ilmiah sekaligus memahami bahwa kemampuan menulis merupakan bagian penting dari perjalanan akademik. Melalui tulisan, mahasiswa tidak sekadar menuangkan kata-kata, tetapi belajar membaca realitas, mengolah informasi, menyusun argumentasi, dan menawarkan gagasan yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan diawali dengan pembukaan serta sambutan dari Ketua HMPS MPI dan Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam. Dalam sambutannya, Ketua HMPS MPI mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada pencapaian pengetahuan di ruang perkuliahan. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan dampak melalui gagasan dan karya yang dihasilkan. Karya tulis ilmiah menjadi salah satu medium strategis untuk mewujudkan semangat tersebut. Melalui tulisan, mahasiswa dapat mengangkat persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, melihatnya secara lebih kritis, kemudian menyusun pemikiran yang dapat menjadi alternatif solusi. Dengan demikian, tradisi menulis tidak hanya menjadi tuntutan akademik, tetapi juga bagian dari proses membentuk mahasiswa yang peka terhadap lingkungan dan mampu memberikan kontribusi.

Wawasan akademik semakin diperkuat melalui pesan Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan dan dunia akademik. Kehadiran AI membuka berbagai peluang untuk membantu manusia mencari informasi, mengembangkan ide, dan menyelesaikan pekerjaan secara lebih efektif. Namun, teknologi tersebut tidak seharusnya membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Mahasiswa justru perlu menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses intelektual. Kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, menguji kebenaran sumber, mengolah gagasan, dan membangun argumentasi tetap menjadi keterampilan yang harus terus diasah.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswa yang sedang membangun fondasi akademiknya. Di tengah kemudahan teknologi, kualitas seorang mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih alat yang digunakan, tetapi juga oleh seberapa kuat kemampuan dirinya dalam berpikir dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Setelah sesi sambutan, mahasiswa mendapatkan pemahaman mengenai konsep dasar karya tulis ilmiah, struktur penulisan, teknik penyusunan, serta berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan tulisan akademik. Pembelajaran kemudian bergerak dari teori menuju praktik. Mahasiswa baru diberi kesempatan untuk mencoba secara langsung menyusun bagian dari sebuah makalah, terutama dalam menerapkan footnote atau catatan kaki serta menyusun daftar pustaka. Untuk mendukung proses tersebut, peserta diperkenalkan dengan Zotero sebagai perangkat bantu pengelolaan referensi. Mahasiswa mempraktikkan cara memasukkan sumber referensi, membuat sitasi atau footnote, hingga menghasilkan daftar pustaka secara lebih sistematis. Praktik ini memberikan pengalaman penting bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya mengetahui bahwa referensi harus dicantumkan, tetapi juga belajar bagaimana mengelolanya dengan tertib dan bertanggung jawab. Keterampilan sederhana tersebut akan menjadi bekal berharga dalam menyelesaikan berbagai tugas akademik selama menjalani perkuliahan.

Sekolah Karya Tulis Ilmiah menjadi salah satu langkah awal untuk memperkenalkan mahasiswa baru MPI pada budaya akademik yang sesungguhnya. Budaya akademik bukan sekadar kemampuan memperoleh nilai, tetapi juga mencakup kebiasaan membaca, berpikir, meneliti, menulis, menggunakan sumber secara bertanggung jawab, dan menghasilkan gagasan yang memiliki manfaat. Kegiatan ini sekaligus memberikan perspektif bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan manusia. Mahasiswa boleh memanfaatkan teknologi, tetapi tetap harus memiliki kendali atas proses berpikirnya. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, sementara nalar manusia tetap menjadi fondasi dalam menentukan arah dan kualitas karya. Dengan bekal tersebut, mahasiswa baru MPI diharapkan mampu menjadikan kegiatan menulis bukan sebagai beban tugas perkuliahan, melainkan sebagai kesempatan untuk menemukan gagasan, menyuarakan pemikiran, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Sekolah Karya Tulis Ilmiah bukan sekadar mengajarkan cara membuat makalah, tetapi menjadi pintu pertama bagi mahasiswa baru untuk memasuki dunia akademik dengan cara berpikir yang lebih matang. Dari Aula Gedung C, mahasiswa baru MPI belajar bahwa sebuah tulisan lahir bukan hanya dari kemampuan merangkai kalimat, tetapi dari keberanian bertanya, ketekunan mencari informasi, kecermatan mengolah sumber, dan kesungguhan membangun gagasan. Teknologi boleh berkembang tanpa batas, tetapi kemampuan manusia untuk berpikir harus tetap menjadi pengendali. Sebab mahasiswa yang hebat bukan hanya mereka yang mampu menggunakan teknologi, melainkan mereka yang mampu berpikir dengan teknologi tanpa kehilangan nalar, menulis dengan data tanpa kehilangan integritas, dan berkarya dengan ilmu untuk menghadirkan manfaat.[iz]

Email : fitk@uin-malang.ac.id
Website: ftik.uin-malang.ac.id
Instagram : ftikuinmlg
Tiktok : ftik.uinmalang
Youtube : fitkuinmlg
Layanan :
– WA : 0816561337 (15. Layanan FITK)
– Link mobile : dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait